Banyak orang berkata bahwa masa terindah adalah masa-masa saat SMA. Di mana kita pulang sekolah langsung nongkrong, ketawa-ketiwi dan bercanda satu sama lain. Pikiran untuk berorientasi jauh ke depan tidak menjadi beban untuk dipikirkan. Yang penting, waktu SMA adalah waktu untuk berteman.
Masa SMA akan selalu diingat dan tidak mudah dilupakan begitu saja. Sampai seumur hidup, kita akan mengingat masa-masa itu. Persahabatan sejak SMA tidak akan dilupakan.
Saya sekarang sedang menikmati masa-masa itu dan saya sekarang adalah seorang pelajar kelas 1 SMA di SMA Kolese De Britto. Baru-baru ini, saya menjalani program beasiswa yang dilaksanakan oleh Badan Alumni De Britto. Sang pemimpin acara datang dengan rokoknya di mulut, celana pendek ABRI,dan rompi warna hijau. Gayanya yang santai dan tato di tangan serta pisuhan yang digunakan benar-benar menunjukkan bahwa dia betul-betul alumni de Britto. Kamus pisuhan saya saja ternyata tidak berarti apa-apa di depannnya yang lebih ahli.
Setelah selesai acara, kami pun bercakap-cakap dengan santai. Dia bersama asistennya juga yang alumni de Britto ikut mengobrol bersama kami. Pembicaraan kami memang kurang ajar tapi itu sudah biasa saja. Kita kan sebenarnya saudara dalam ikatan de Britto.
Dalam pembicaraan ngalor-kidul itu, I was suprised. Why? Karena ternyata sang pemimpin acara beasiswa itu merupakan seorang yang lulus prematur, tak seperti asistennya yang lulus SMA normal. Maksud dari lulus prematur adalah pada masa dahulu itu, ia pernah di-DO dari SMA KOlese de Britto. Ia menceritakan dengan semangat tentang tahun pertamanya di SMA ini. Ia sebenarnya bisa naik kelas (walau pas-pasan) dan masuk ke kelas A3. Ia menghadap romo pamong karena tidak suka dengan masuk ke A3. Ia ingin masuk ke A1 dan bertanya kepada romo pamong bagaimana cara untuk masuk dan naik kelas ke A1. “Ya, tinggal kelas dulu,ulangi tahun depan,”ucap romo pamong.
Gobloknya, ia menuruti perintah romo pamong tersebut. Itu dibuktikan lagi saat ujian berlangsung. Ia langsung mengisi semuanya ngawur dan keluar pertama dalam setiap ujian. “Wah, hebat!”, “Anak pinter!”, teman-temannya berkata.
Alhasil, ia mengulangi satu tahun berikutnya. Ya,sayangnya akhirnya pada satu tahun setelah itu, ia justru tidak naik kelas dan harus keluar dari SMA Kolese de Britto dan pindah ke SMA negeri. Di sana, ia lulus SMA dengan lancar.
Ia berkata kepada saya bahwa ia sangat bersyukur bisa masuk SMA Kolese de Britto. Tato di tangan itu berkat didikan di De Britto. Dia bisa menjadi orang yang seperti itu juga karena De Britto. Dia belajar pisuhan juga di sini, yang penting tahu tempat dan bertanggung jawa. Tapi, satu hal yang lebih penting dari semua itu karena ia masuk SMA Kolese De Britto adalah ia diterima di De Britto adalah karena ‘man for others’nya yang kuat. Ia di-DO dari SMA Kolese de Britto, tapi ia diterima oleh para alumni. Siapapun yang pernah mencicipi pembelajaran di SMA Kolese de Britto tetap adalah alumni de Britto. Alumni De Britto memiliki persaudaraan yang kuat dan tidak akan pernah bisa tergantikan.







Woooyoooo mamen…!!


