Ya, Tinggal Kelas Dulu

logo1-warna.jpgBanyak orang berkata bahwa masa terindah adalah masa-masa saat SMA. Di mana kita pulang sekolah langsung nongkrong, ketawa-ketiwi dan bercanda satu sama lain. Pikiran untuk berorientasi jauh ke depan tidak menjadi beban untuk dipikirkan. Yang penting, waktu SMA adalah waktu untuk berteman.

Masa SMA akan selalu diingat dan tidak mudah dilupakan begitu saja. Sampai seumur hidup, kita akan mengingat masa-masa itu. Persahabatan sejak SMA tidak akan dilupakan.

Saya sekarang sedang menikmati masa-masa itu dan saya sekarang adalah seorang pelajar kelas 1 SMA di SMA Kolese De Britto. Baru-baru ini, saya menjalani program beasiswa yang dilaksanakan oleh Badan Alumni De Britto. Sang pemimpin acara datang dengan rokoknya di mulut, celana pendek ABRI,dan rompi warna hijau. Gayanya yang santai dan tato di tangan serta pisuhan yang digunakan benar-benar menunjukkan bahwa dia betul-betul alumni de Britto. Kamus pisuhan saya saja ternyata tidak berarti apa-apa di depannnya yang lebih ahli.

Setelah selesai acara, kami pun bercakap-cakap dengan santai. Dia bersama asistennya juga yang alumni de Britto ikut mengobrol bersama kami. Pembicaraan kami memang kurang ajar tapi itu sudah biasa saja. Kita kan sebenarnya saudara dalam ikatan de Britto.

Dalam pembicaraan ngalor-kidul itu, I was suprised. Why? Karena ternyata sang pemimpin acara beasiswa itu  merupakan seorang yang lulus prematur, tak seperti asistennya yang lulus SMA normal.  Maksud dari lulus prematur adalah pada masa dahulu itu, ia pernah di-DO dari SMA KOlese de Britto. Ia menceritakan dengan semangat tentang tahun pertamanya di SMA ini. Ia sebenarnya bisa naik kelas (walau pas-pasan) dan masuk ke kelas A3. Ia menghadap romo pamong karena tidak suka dengan masuk ke A3. Ia ingin masuk ke A1 dan bertanya kepada romo pamong bagaimana cara untuk masuk dan naik kelas ke A1. “Ya, tinggal kelas dulu,ulangi tahun depan,”ucap romo pamong.

Gobloknya, ia menuruti perintah romo pamong tersebut. Itu dibuktikan lagi saat ujian berlangsung. Ia langsung mengisi semuanya ngawur dan keluar pertama dalam setiap ujian. “Wah, hebat!”, “Anak pinter!”, teman-temannya berkata.

Alhasil, ia mengulangi satu tahun berikutnya. Ya,sayangnya akhirnya pada satu tahun setelah itu, ia justru tidak naik kelas dan harus keluar dari SMA Kolese de Britto dan pindah ke SMA negeri. Di sana, ia lulus SMA dengan lancar.

Ia berkata kepada saya bahwa ia sangat bersyukur bisa masuk SMA Kolese de Britto. Tato di tangan itu berkat didikan di De Britto. Dia bisa menjadi orang yang seperti itu juga karena De Britto. Dia belajar pisuhan juga di sini, yang penting tahu tempat dan bertanggung jawa. Tapi, satu hal yang lebih penting dari semua itu karena ia masuk SMA Kolese De Britto adalah ia diterima di De Britto adalah karena ‘man for others’nya yang kuat. Ia di-DO dari SMA Kolese de Britto, tapi ia diterima oleh para alumni. Siapapun yang pernah mencicipi pembelajaran di SMA Kolese de Britto tetap adalah alumni de Britto. Alumni De Britto memiliki persaudaraan yang kuat dan tidak akan pernah bisa tergantikan.

Published in: on March 30, 2008 at 7:49 am  Leave a Comment  

Rugi 100 ribu

p0pice.jpg

Beliin popice coklat dunk!”

Itulah perintah yang ditujukan kepada aku dan temanku, Derry. Kami cuma tahu bahwa kami harus segera pergi ke mal terdekat dengan motor untuk membeli pop ice coklat. Kami melakukan perintah itu dengan semangat. Mengapa kami mau-maunnya diperintah seperti itu? Ini semua adalah untuk suksesnya kelangsungan stand kami di Malam Budaya JB 2008 ini.

Kami pun dengan duit kami sampai habis-habisan membeli popice coklat sampai dompet habis. Yang penting,stand kelas sukses.
Stand kelas ini kami benar-benar perjuangkan. Stand kami menjual roti bakar dan popice. Hampir semua personil kelas ikut membantu terselenggaranya stand ini. Ada yang ikut menghias stand. Ada yang membuat roti bakar. Ada yang jadi kasir dan sebagainya. Pokoknya, semua harus kerja malam itu.
Tujuan kami membuka stand ini ada dua. Yang pertama adalah menambah pengalaman. Yang kedua adalah mencari untung. Kan gak lucu kalau coba-coba menjual tapi ruginya langsung setumpuk.
Semoga dua hal itu bisa tercapai.

Setelah rampung, kami pun menghitung uang kami. Ternyata, olaaaalaaa, berbeda dengan yang kubayangkan. Stand kami rugi seratus ribu T_T. Udah capek gini, tapi cuma seratus ribu.ck..ck..ck…

Ah,tapi tak jadi soal untuk anak JB seperti kami. Kami tetap senang dengan hal ini. Untung ditanggung bersama dan rugi ditanggung bersama. Yang penting, mbuka stand ini udah rame-rame. Akhirnya,malam yang indah ini kami pulang dengan beres-beres dibarengi nongkrong sambil cerita horor.  

 

p0ppp.jpg
 

Published in: on March 30, 2008 at 7:48 am  Leave a Comment  

C0z Becak!!!!

 becak222.jpg

Malam di sekolah ternyata sama saja dengan malam di rumah. Bulan tetap saja bersinar terang. Bedanya hari ini, aku harus melembur. Sebenarnya, agak males T_T tapi ini merupakan tuntutan pekerjaan karena aku telah mendaftar menjadi seksi dekorasi acara Malam Budaya di Bulan Februari 2008 ini bersama teman saya.

Saat malam, saya dan 5 teman saya dapet tugas untuk mengambil becak di tukang becak. Becak itu diambil untuk dihias untuk menjadi ticket-box di Malbud. Dengan 2 motor yang cheng-lu, kami berangkat ke tukang becak itu untuk meminjam 4 becak dengan harga Rp 5.000,-/hari. 4 orang yang besar mengantarkan becak-becak itu ke sekolah yang jaraknya agak jauh dan ramai. 2 orang lainnya yang mungil-mungil mengantarkan motor balik ke sekolah.

 becakk.jpg

Ini merupakan pengalaman pertamaku dalam sejarah (semoga masuk buku sejarah ;p), saya mengendarai becak. Mulailah kami mengendarai becak. Susah,sih,pertama-tamanya, tapi seru juga^_^. Mulai,deh, ngebut-ngebutan kayak di tv. Cuma ni bukan MOTOGP atau F1 yang kecepatannya sampai ratusan kilometer, ini cuma balapan becak. Semua ikut ngebut-ngebutan. Yang paling banter adalah teman saya,sebut saja Ozzy (16) yang mengendarai dengan cepat. Lalu,disusul saya dan kemudian 2 teman saya, Rangga(15) dan Wulang (15).

Tiba-tiba,muncul sebuah kubangan besar di depan kami. Kami pun kelimpungan (we are confused) dengan kubangan itu karena kami belum pintar mengendalikan becak ini dan dari tadi,kami hanya bisa lurus. Kami pun mulai agak berbelok. Ozzy sukses tidak mengenai kubangan dan meninggalkan peserta yang lain. Saya tidak bisa menghindar (remnya macet) dan pantat saya pun jadi korban. Sementara dua peserta lainnya tidak bisa mengendalikan becak tersebut. Becak dari Rangga tidak bisa dikendalikan dan terus bergerak hendak menabrak pohon besar di pinggir jalan. Lain lagi dengan Wulang. Ia bergerak ke kanan alias ke jalur sebelah dan hampir menabrak sebuah game center. Untung,bisa berhenti sebelum menabrak.

becak22.jpg

Kami tetap melanjutkan petulangan kami menjadi becak driver ke sekolah secara sendiri-sendiri. Ozzy dan saya sampai pertama di sekolah. Lama ditunggu, Rangga dan Wulang yang tertinggal di belakang tak kunjung kelihatan. Tiba-tiba, dari balik gerbang muncullah seorang rupawan bernama Rangga. Tapi, dia kelihatan cemas sekali. “Wulang nabrak mobil,”ucapnya. Wah,koordinator Tim Dekorasi bernama Rembran pun kelimpungan dan dengan motor,pergi ke tempat tabrakan terjadi. Dugaan saya adalah ia tentu tak mampu mengendalikan mobilnya,eh,becaknya.

Setengah jam kemudian, muncullah Wulang dan Rembran. Wulang wajahnya sudah sangat susah. Seluruh penghuni kebun binatang diucapkan semua olehnya.

bercas.jpg

“Wah,mobile peyok je. Kudu di-kenteng mobil magic. Regane 200-an je.Wah,susah aku.Wis trauma aku numpak becak.”

Dari kejadian itu, wulang tetap bertanggung jawab atas hal yang dilakukannya. Ia tidak begitu kaya. Sang pemilik mobil mengajak ketemuan membicarakan mobil ditabrak itu. Ia tetap datang untuk berani bertanggung jawab. Ia pernah merugikan orang lain tapi tetap bertanggung jawab. Inilah ‘man for others’ untuk mengakui kesalahan.

becak2.jpg

Published in: on March 30, 2008 at 7:46 am  Leave a Comment  

Malam Keakraban

mkn-ga-mknkumpulsssss.jpgWoooyoooo mamen…!!
Watzzzz  up hah??..^^

Tentu klian smua baik – baik saja…
Sm0ga damai kristus slalu menyertai kita yawwwwwww!!..
Hmmm,,di post ini saya sbgai anak, murid, siswa, dan pelajar dari SMA Kolose De Britto (JB) ingin membagi pengalaman, at0 “sharing” dengan kalian,mengenai Man For Others yang ada di sekolah ini..

Critanya tu, waktu saya kelas saya (X-3) akan mengadakan kegiatan rutin atau malah kegiatan wajib di sekolah ini yaitu diadakannya Malam Keakraban, atau sering disingkat makrab

Yah,mungkin istilah itu masih agak asing kali ya bagi kalian, karena ini merupakan kegiatan orisinil buatan sekolah ini.
Makrab itu artinya malam di mana sebuah kelas di Jb ini melakukan kegiatan menginap bersama – sama di sebuah tempat yang sudah ditentukan tentunya, dan para murid didampingi oleh seorang romo beserta wali kelasnya.

dsc00184.jpg
Nah, serunya acara ini adalah para siswa dapat berkumpul bersama, membicarakan masalah kelas, memberi solusi untuk masalah tersebut dan  yang terakhir tentu saja tidur bersama – sama.
Karena setiap siswa adalah individu – individu yang memiliki perbedaan.
So, tidak semua siswa memiliki kecocokan, dan memiliki kesenangan yang sama.
Dengan diadakannya makrab, diharapkan siswa – siswa dapat saling mengerti satu sama lainnya serta dapat memperbaiki relasi bila sebelumnya memang ada pertengkaran at0 ketidakcocokan dalam kelas.
Ketidakcocokan pun mulai disadari  sebagai hal yang harus diperjuangkan bukan sebgai tembok tapi sebagai jembatan. Kita harus saling menerima dan percaya bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu kita tidak dapat menerima perbedaan yang dimiliki orang lain begitu saja, kita pasti awal – awal akan merasa jengkel dan tidak suka dengan tingkah laku orang itu, karena bertolak belakang dengan sifat kita. Karena itulah, pihak sekolah ingin agar setiap siswa dapat saling menerima siswa satu dengan siswa lainnya, lalu dapat menerapakan hal itu nanti di masyarakat luar.
Dengan pengadaan makrab, romo sebagai pemimpin acara ini selalu menanamkan jiwa Man For Others dalam setiap kegiatan – kegiatan. Romo selalu memberi masukan pada kami, bahwa maksud dari Man for Others ini adalah manusia yang dengan tulus iklhas membantu sesamanya, tanpa memiliki maksud terselubung. Kami benar – benar dibantu dalam penanaman jiwa itu dengan berbagai kegiatan seperti, game yang dibagi dalam berbagai kelompok, acara curhat yang tiap siswa diminta membicarakan tentang kelebihan, dan kekurangan teman – temannya di depan semua siswa, agar kami semua dapat saling mengintropeksi diri kami masing – masing, agar lebih dapat diterima di lingkungan kami. Semua siswa saling membantu dalam pelaksanaan makrab ini, ini dibuktikan dengan para panitia kelas yang sudah dibentuk tidak pernah menyerah untuk mencarikan sebuah tempat yang pantas untuk diadakannya acar ini, mereka telah menerapkan jiwa Man For Others karena dengan tulus mereka mau berpanas – panasan dan berhujan – hujannya saat cuaca tidak mendukung, dan acara makrab ini juga dilakukan dengan berbagai kegiatan yang benar – benar membuktikan bahwa kami dapat menerapkan jiwa Man For Others dalam setiap kegiatan, itu terbukti dengan setiap teman yang sudah bisa dalam game tidak dengan sombong melupakan teman yang lainnya, tapi turut membantu mereka.
Huff~,…..Pokoknya kami jadi lebih mengerti apa yang harus kami lakukan dewasa ini sehingga dapat memperat hubungan kami semua sebagai siswa JB, dan tidak malu untuk mempraktekkan Man For Others di mananpun kami tinggal nanti.
Makrab ini benar – benar kegiatan yang berguna lo!!
Masalah di kelas saya saja, yang sangat amat dikenal ramai di kalangan guru dan dikenal memiliki siswa – siswa yang memiliki potensi terbanyak untuk menyumbangkan siswa – siswa yang tidak naik kelas,  dapat berubah sifatnya setelah makrab.

Kelasku (x-3) dapat menjadi berubah 100% setelah makrab
Teman – teman menjadi tenang, dan serius dalam pelajaran
Lalu selalu aktif bila sedang dalam pembahasan topik.
Wali kelas kami pun memuji kami, bahwa kelas kami dapat dibanggakan di JB ini.
Saat rapat gurupun, banyak guru memberikan opini bahwa kelas x-3 telah berubah dan banyak siswanya yang memiliki peningkatan nilai.
Nah, itu semua dapat menyimpulkan bahwa acara makrab ini benar – benar bermanfaat dan berguna untuk mengembangkan semangat Man For Others

rix.jpg

Published in: on March 30, 2008 at 7:42 am  Leave a Comment  

Sang Inspirasi

400px-quake_epicenters_1963-98.png 

1 detik…
2 detik…
3 detik…
4 detik…
dan seterusnya
hingga…
57 detik…

350px-sanfranhouses06.jpg

Jogja luluh lantak…T_T
Banyak bergelimpangan darah di mana-mana. Rumah-rumah ambruk satu persatu. Jalan-jalan retak di sana-sini. Banyak tangisan, banyak jeritan dan banyak yang kehilangan. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, seakan Tuhan meninggalkan para umatnya.

Berita diceritakan di mana-mana.                                         

Di sini perlu bantuan, di sana perlu bantuan.

350px-earthquakefreewayca1989.jpg

Ayo tolong Jogja.                                                                      

      Banyak relawan datang ke daerah ini. Yang selamat membantu yang perlu dihibur dan ditangisi. Anak JB yang selamat pun datang membantu ke seluruh lini kota JOgja.

      Sebenarnya, saya tidak tahu sistem apa yang digunakan SMA Kolese De Britto untuk memanggil dan mengirimkan para laskarnya ke lapangan, tapi yang saya tahu itu adalah sikap mau membantu dan berani berjuang untuk sesama.
      Saat itu, saya masih SMP. Saya belum SMA dan tidak menyangka nanti masuk SMA De Britto (dulu kiranya ke sekolah luar negeri). Saat itu, Bulan Mei 2006, saya bersama para tetangga saya pergi ke rumah sakit Sardjito untuk membantu sukarela. Saya datang ke situ dengan menyiapkan otot untuk membantu para korban terluka.

      Di sana, saya langsung dapat tugas mengangkut para korban secara bersama-sama. Saya ingat pertamakali saya dapat tugas mengangkut  seorang wanita gendut yang terluka parah di pelipisnya. Untuk mengangkatnya, tentu kita butuh tenaga ekstra besar apalagi saya harus mengangkut dia dari lantai pertama ke lantai 3. Baru sampai di lift lantai pertama, otot saya sepertinya sudah mau copot tidak karuan tapi saya tetap berjuang sampai ke lantai 3.

      Ohh, iya, saya lupa cerita kalau saya itu sepertinya yang paling kecil dalam membantu para korban (biasanya orang SMA atau kuliahan atau LSM). Ketika sampai di lantai 3 dan hendak mengangkut ke kamarnya, tangan saya berkeringat dan pegangan saya lepas. Ibunya sudah mau jatuh. Jeritannya saja sudah melengking. Untung, ada tangan yang menopang menggantikan aku. Ohhhh, dia seorang laki-laki dengan ID SMA Kolese de Britto. Untung, ada dia. “Dik,biar saya gantikan saja. Adik pasti udah kesel.” Ya, terimakasih atas bantuannya dan tangan saya udah kesemutan. Ibu itu akhirnya selamat dalam tujuannya ke kamar itu yang baunya udah tidak keruan.
     

      Melihat itu, saya baru peka bahwa ada banyak anak JB yang berseliweran membantu korban. Wow, that’s cool mamen!!! Sejak saat itu, saya jadi ingin masuk SMA KOlese de Britto  Sekarang, impian itu sudah terwujud. Ohhh, iya, aku juga belum mengenal kata “man for others” saat itu tetapi “man for others sudah terlihat di dalam tindakan dan kepribadian tjah-tjah de Britto. This is really amazing ^_^.  God bless you.

    

Published in: on March 30, 2008 at 6:56 am  Leave a Comment  

Seiring Suara Drum

Bukan Chicago, tapi John de Britto,

bukan michael Jordan, tapi si Nico,

orang bilang suporter Jb paling edan…

       Ya, lagu itu selalu menjadi santapan sehari-hari anak-anak Jb saat mendukung permainan basket JB di kancah pertandingan. Tentu, kita sering dengar lagu-lagu itu setiap kali JB tanding. Setiap lagu dinyanyikan dengan semangat diiringi dengan hentakan drum yang dipukul kuat-kuat dan kencang-kencang!!

     Pada pertandingan basket, anak JB mempunyai suporter yang cukup banyak dan mayoritas lebih banyak daripada anak-anak sekolah lainnya. Ini tak diragukan lagi karena anak-anak JB laskarnya banyak dan semuanya merupakan pemilik burung (kelamin laki-laki) ^^. Seandainya suporter JB sedikit tentu ini harus dipertanyakan.

     Suporter JB walau berjumlah banyak dan semuanya laki-laki bukan berarti tjah-tjah JB suka dengan tawuran. Ini yang akan menjadi ciri khas anak JB yang terkenal dengan semboyannya “man for others“. Man for others berarti manusia yang ikhlas untuk saling membantu sesama. Apa hubungannya man for others dengan suporter JB? Opo gunane? Benarkah semboyan itu hanyalah sebuah ungkapan saja?

     Pada kira-kira Bulan Oktober di GOR Kridosono tahun 2008, hal ini terlihat pada diri-diri anak JB. Perebutan juara tiga dan empat antara SMA Kolese de Britto melawan SMA 1 Depok berlangsung panas. Pertandingannya memang panas tapi lebih hot lagi pada pertarungan antarsuporter. Terjadi saling balas-membalas yel-yel ejekan untuk masing-masing suporter.  Yang satu mengatakan bahwa anak JB homo dan yang satu lagi mengatakan bahwa anak SMA 1 Depok ra duwe bojo. Hal in terus berkelanjutan pada cibiran mulut.

Polisi sudah saling bersiaga di dalam stadion untuk menjaga kemungkinan kelanjutan dari hal ini, yaitu tawuran pelajar. Hal yang tak terduga terjadi. Semua polisi kaget akan hal ini. Seusai mengumandangkan mars de Britto dan seusai melihat penampilan cheers JB, anak JB pulang dengan tenang.

     Anak JB tidak hanya bisa mengurangi permusuhan dengan anak sekolah lain. Melalui semboyan ”man for others” yang sudah mbalung sumsum, sure, anak JB juga bisa menjalin persahabatan dengan SMA lain. Pada pertandingan lain di DBL yang baru selesai akhir-akhir ini, anak JB juga ikut mendukung sekolah lain. That is no problem!!  Pada pertandingan basket cewek semifinal antara Stece dan Bosa, anak JB bersama Muha bisa bergabung mendukung Stece padahal sorry,we are different in religion.

Ayo,kita dukung anak JB supaya senantiasa selalu rame-rame dan kita bisa memperjuangkan ”man for others“. Eya!! Ingatlah selalu John de Britto in your heart dan dukung selalu JBmania seiring suara drum para suporter.

 

 dru11.jpg

 

 

Published in: on March 30, 2008 at 6:21 am  Comments (1)  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on March 30, 2008 at 3:45 am  Comments (1)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.